rachma's Site

Blog EntryCATATAN BUAT KITAApr 2, '08 3:00 AM
for everyone

CATATAN BUAT KITA

 Hai.... MY FRENDZ...
 MumPung mAmA lOe mSi aDa,
 coba dech saat bEliaU tiduR...
 saaT maTanya terPejam...
 eLo taTap wajaHnya 5 meNit aJa...
 cUma 5 meniT ajA koq... g uSa lAma2...
 cobA rasaiN deH klO wajaH beliAu udAh ga da dsiTu...
 Rsain lewat Hati elo yg paling dAlem...
 Lakuin aPapuN yang bisA kaMu lakuKan unTuknya...
 "SEKARANG"!!! bukan 1jam lagi... bukan 1hari lagi... bukan 1bulan lagi...
 tapi "SEKARANG"... jangan tunggu klo Beliau uda mo ninggalin kehidupan kita...
 penyesalan ga dateng duluan sahabat2ku...

 Ada sebuah cerita tentang "BETAPA BESAR KASIH MAMA BUAT KITA" Seorang anak mencari Ibunya dan mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur...
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan memberikan sehelai kertas yang sudah ia siapkan sehari sebelumnya...
Sang Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh anaknya dan membacanya...
OngKos bantuin MAMA :
1) Bantu pergi ke warung : Rp 20.000,00
2) Jagain ade : Rp 20.000,00
3) Buang sampah : Rp 5.000,00
4) Beresin tempat tidur : Rp 10.000,00
5) Nyiram bunga : Rp 15.000,00
6) Nyapu halaman : Rp 15.000,00
7) TotaL : Rp 85.000,00

Selesai membaca kertas tersebut... Sang Ibu hanya tersenyum memandang anaknya...
Si Anak pun tersenyum penuh kemenangan...
Lalu Sang Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama...
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan-GRATIS
2) OngKos menyusuimu anakku-GRATIS
3) OngKos berjaga malam karena menjagamu-GRATIS
4) OngKos air mata yang menetes karenamu-GRATIS
5) OngKos khawatir krn memikirkan keadaanmu-GRATIS
6) OngKos menyediakan makan, minum, pakaian dan keperluanmu-GRATIS
 Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku-GRATIS

Air mata Si Anak berlinang setelah membaca... dengan erat dan berbisik sambil terisak di dekat telinga Ibunya, "AKU SAYANG SAMA MAMA...UDAH G ADA LAGI YANG PERLU DIBAYAR OLEH MAMA...UDAH LUNAS SEMUANYA...BUKAN MAMA YANG HUTANG SAMA AKU,  TAPI AKU YANG UTANG SAMA MAMA..."


Blog EntryPara Kekasih.....Feb 14, '08 12:04 AM
for everyone

Wali-Wali Allah tidak berkata: 'ikuti saya'

  tapi berkata: 'Ikuti Allah dan Rasul-Nya!'  

  Siapa yang terbuka hatinya mengikuti mereka.

  Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya  

  [tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.  

  Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.  

  Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.    

  Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.      

  yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah    

  dari "hati spiritual" ke "hati spiritual" para hamba-Nya yang mukhlisin."

- Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -

 

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa Rasulullah SAW (ShollaLlahu 'Alayhi Wassalam) bersabda: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya."

 

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?" Beliau SAW menjawab: "Itulah 'Uways al-Qarani." Para sahabat bertanya kembali: "Seperti apakah 'Uways al-Qarani?" Beliau SAW menjawab: "Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan) , janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo'a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, "Masukklah ke dalam surga!" Dan diserukan kepada 'Uways, "Berhenti, dan berikanlah syafa'at!" Maka Allah memberikan syafa'at sebanyak kabilah Rabi'ah dan Mudhar."

 

"Wahai 'Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua." Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, 'Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: "Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama 'Uways?"

 

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: "Kami tidak tahu 'Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama 'Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik) , dan lebih miskin daripada dia."

 

Maka, menangislah 'Umar ra, lalu beliau berkata: "Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Kelak akan masuk surga melalui syafa'atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar." Maka 'Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?" "Ya," jawabnya. Beliau bertanya: "Dimanakah tempatnya?" Ia menjawab: "Di bukit 'Arafat." Kemudian berangkatlah 'Umar dan 'Ali ra dengan cepat menuju bukit 'Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: "Assalamu'alayka wa rahmatullah wa barakatuh." 'Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.

 

Mereka berdua bertanya: "Siapa engkau?" Ia menjawab: "Penggembala unta dan buruh suatu kaum." Mereka berdua berkata: "Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?" Ia menjawab: " `Abdullah (hamba Allah)." Mereka berdua berkata: "Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?" Ia menjawab: "Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?"

 

Mereka berdua menjawab: "Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama 'Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: "Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah 'Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu. "

 

Ia menjawab: "Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam ('alayhis-salam) , tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu'min (beriman) dan muslim yang doanya diterima." 'Umar dan 'Ali ra berkata: "Sudah pasti kamu yang paling pantas." 

 

'Uways berkata: "Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?" Berkatalah `Ali ra: "Ini adalah 'Umar 'Amir al-Mu'minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib." Lalu 'Uways bangkit dan berkata: "Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai 'Amir al-Mu'minin, dan kepadamu pula wahai putra 'Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan." Lalu keduanya berkata: "Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu."

 

Lalu 'Umar ra berkata kepadanya: "Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu."

 

Ia berkata: "Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai 'Amir al-Mu'minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai 'Amir al-Mu'minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu. "

 

Ketika 'Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: "Andai 'Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?" Kemudian 'Uways berkata: "Wahai 'Amir al-Mu'minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain." Maka 'Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan 'Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.

 

Sumber:

"The Children around the Table of Allah" by Shaykh Muhammad Sa'id al-Jamal ar-Rifa'i

 

 


Blog EntryPerantara Wali Uways QaraniDec 10, '07 3:50 AM
for everyone

Perantaraan Wali Uways Qarani

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani ar-Rabbani

Mercy Oceans, Secrets of the Heart

www.mevlanasufi. blogspot. com


 

Bismillah hirRohman nirRohim

 

Kita harus bergembira. Tak perlu bersedih. Allah telah menciptakan kamu. Jika Dia tidak menciptakanmu, kamu tidak akan pernah ada. Selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang Allah gariskan kepadamu. Jangan pernah berkeberatan, apapun yang kamu lihat dalam hidup ini. Jika kamu melihatnya dengan perspektif yang baik, kamu akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kamu melihatnya dengan perspektif yang buruk, kamu juga akan mendapatkan keburukan dalam dirimu.

 

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah saw bersabda, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Sya’ban adalah bulanku,” berarti Allah telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kamu, tanpa bertanya kepada Rasulullah saw.

 

Sebagaimana Allah mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah saw diciptakan oleh Allah swt dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah saw memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan pada setiap orang.

 

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah saw, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.  Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah swt telah memberi Rasulullah saw 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah swt bagaikan tetesan dalam samudra.

 

Allah menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Huraira ra tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah saw kepada hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

 

Cendikiawan muslim, kristen, yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—muslim, hindu, yahudi, kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah saw setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannny a, berikut ini ada cerita yang berasal dari Grandshaykh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani q dan Shaykh Nazim al Haqqani q. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi as dan Nabi ‘Isa as, Insya Allah.

 

Rasulullah saw memerintahkan Sayyidina ‘Umar ra dan Sayyidina ‘Ali ra, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah dishalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani ra sebab dia harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah saw juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah saw menyerahkan diri mereka kepada Uwais, dan siapa pula Uwais yang tidak pernah bertemu Rasulullah saw? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

 

Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kamu melihat orang meninggal kamu akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, lebih banyak air keluar dari tubuhnya. Rasulullah saw paling banyak mengeluarkan keringat daripada seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena benar-benar basah dengan air.

 

Kemudian Sayyidina ‘Umar ra dan Sayyidina ‘Ali ra melepaskan jubah Rasulullah saw dan pergi ke kampung Uwais, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani ra, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani ra berada. Sayyidina ‘Umar ra mulai jengkel—bagaimana Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk menemukan seorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali ra berkata, “Wahai ‘Umar, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah saw berkata sesuatu itu ada, pastilah bakal ada dan kita akan menemukan Uwais, insya Allah.”

 

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani ra sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina Umar ra bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar ra menengok pada Sayyidina ‘Ali ra dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah saw berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani?” Sayyidina ‘Ali ra berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, aku menerima kenyataan kalau namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani.”

 

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah. Kemana pun kamu pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang dijaga keutuhannya, salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah. Sayyidina ‘Umar ra bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais ra berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah saw kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah saw mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar ra dan bertanya, “Apakah kamu tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar ra menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani ra menjawab, “Ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

 

Allah swt telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

 

Sayyidina ‘Umar ra bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais ra menjawab, “Wahai ‘Umar pernahkah kamu melihat Rasulullah saw?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais ra. Lalu Sayyidina ‘Umar ra mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah saw, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Orang lugu juga mengenal beliau seperti itu. Kamu tidak melihat Rasulullah saw yang sesungguhnya.

 

Bagaimana denganmu ‘Ali? Pernahkah kamu melihat Rasulullah saw?” tanya Sayyidina Uwais ra. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, Wahai ‘Ali lihatlah dari perutku ke atas, aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah, tetapi aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan aku melihat segalanya telah lenyap kecuali Rasulullah saw. Beliau adalah segalanya.”

 

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali ra dapat melihat di mana leher Rasulullah saw, dia akan seperti Rasulullah saw. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan [pada pertemuan] sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah swt dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah saw, dan Cahaya Adam as, dan berimplikasi dengan ayat al Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah terhadap umat manusia, (al Isra’ 70). Bagaimana Allah memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

 

Sayyidina Uwais ra berkata kepada Sayyidina ‘Ali ra, “Wahai ‘Ali, kamu melihat Rasulullah sekali.” Sayyidina ‘Ali membalas, “Pernahkah kamu melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual aku selalu bersamanya selama 24 jam.,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Dia berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika aku bersamamu dan aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibongkar, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi as dan Nabi ‘Isa as.”

 

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah saw telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi as akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa as. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah swt.

 

Sayyidina Uwais ra berkata kepada Sayyidina Umar, “Wahai ‘Umar sebelum Rasulullah saw lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah saw memohon kepada Allah, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah saw menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah, “Aku akan datang ke Kehadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah menjawab, Terserah padamu!”

 

Kemudian Rasulullah saw memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke kehadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah saw tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah swt. Dengan pengampunan dari Allah tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

 

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah saw. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka. “ Jubah ini akan diteruskan lewat mata rantai emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi as ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa as pada saat kemunculannya.

 

Sayyidina ‘Umar ra menangis dan berkata, “Orang lugu macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, Yaa ‘Ali, mengapa kamu tidak mengatakan kepadaku bahwa kamu melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang kamu lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar ra menangis terus selama hidupnya.

 

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah swt kepada Rasulullah saw untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para wali. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah saw di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan umat manusia.

 

Wa min Allah at taufiq

 

wasalam, arief hamdani

www.mevlanasufi. blogspot, com

Dapatkan Buku2 Terbaru, DVD, VCD, CD Ceramah Sufi Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs & Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi qs. Lihat Daftar Isi di web diatas

 


Blog EntryWaktu Sholat Seperti Rasulullah SAW.Dec 10, '07 3:26 AM
for everyone

Assalamu'alaikum wr, wb.

Adakah di dalam Al-Quran dalil tentang waktu shalat? Ataukah hanya ada di dalam hadits saja? Lalu bagaimana detail tiap waktu shalat yang sesungguhnya?

Sebelumnnya kami ucapkan terima kasih

Wassalamu'alaikum wr, wb.

Sudewo
sudewoprojo@gmai

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Namun paling tidak ada tiga ayat di dalam Al-Quran yang membicarakan waktu-waktu shalat secara global.

Ayat Pertama:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"(QS. Huud: 114)

Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang, yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghirb dan Isya`.

Ayat kedua

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)

Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah matahari tergelincir, yaitu shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah shalat Maghirb dan Isya` dan Qur`anal fajri yaitu shalat shubuh.

Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits

Sedangkan bila ingin secara lebih spesifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita bisa merujuk kepada hadits-hadits Rasululah SAW yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Karim. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini:

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, "Bangunlah dan lakukan shalat." Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )

Di dalam Nailul Authar disebutkan bahwa Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang waktu-waktu shalat.

Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini:

Dari `Uqbah bin Amir ra bahwa Nabi SAW bersabda, "Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang."(HR Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.)

Lebih Detail Tentang Waktu Shalat Dalam Kitab-kitab Fiqih

Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqoha. Di antaranya yang bisa disebutkan antara lain kitab-kitab berikut ini:

Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160,
Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343,
Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 - 62,
Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43,
Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338,
Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181,
Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 - 127,
Kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 51 - 54 dan Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 - 298.

Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut:

1. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)

Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.

Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.

Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.

Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu untuk shalat shubuh.

Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini:

"Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat dan menghalalkan makan.." (HR Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim).

Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasululah SAW bersabda, "Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari." (HR Muslim)

2. Waktu Shalat Zhuhur

Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata zawalus syamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan karena kalau dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya, "Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?"

Zawalus-Syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala.

Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zuhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar.

Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur karena posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau `matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur.

3. Waktu Shalat Ashar

Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar." (HR Muslim dan enam imam hadits lainnya).

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu itu adalah shalatnya orang munafiq.

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ..."Itu adalah shalatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit." (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning."(HR Muslim)

Shalat Ashar adalah shalat Wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya adalah hadits Aisyah ra.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW membaca ayat, "Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha." Dan shalat Wustha adalah shalat Ashar. (HR Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya)

Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Shalat Wustha adalah shalat Ashar." (HR Tirmizy)

Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311 menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha adalah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah shalat shubuh.

4. Waktu Shalat Maghrib

Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Abdullah bin Amar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)." (HR Muslim).

Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam." (HR Tirmizy)

Namun menurut kitab Nashbur Rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih.

5. Waktu Shalat Isya`

Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.

Dari Abi Qatadah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya." (HR Muslim)

Sedangkan waktu muhktar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya.." (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).

Dari anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat." (HR Muttafaqun Alaihi).

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Waktu shalat Isya` hingga tengah malam"(HR Muslim dan Nasai)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help